KONGRES BAHASA DAN EJAAN YANG PERNAH BERLAKU DI INDONESIA

A. KONGRES BAHASA YANG PERNAH DILAKSANAKAN DI INDONESIA.

  • Kongres Bahasa Indonesia I di Solo, Jawa Tengah, 25—27 Juni 1938
  • Kongres Bahasa Indonesia II di Medan, Sumatra Utara, 28 Oktober—2 November 1954
  • Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta, 28 Oktober—3 November 1978
  • Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta, 21—26 November 1983
  • Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta, 27 Oktober—3 November 1988
  • Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta, 28 Oktober—2 November 1993 
  • Kongres Bahasa Indonesia VII, Jakarta, 26—30 Oktober 1998
  • Kongres Bahasa Indonesia VIII, Jakarta, 14—17 Oktober 2003
  • Kongres Bahasa Indonesia IX, Jakarta, 28 Oktober—1 November 2008 
  • Kongres Bahasa Indonesia X, Jakarta, 28 Oktober—31 Oktober 2013


Kongres Bahasa Indonesia I

Tanggal 25—27 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dalam kongres itu Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa "jang dinamakan 'bahasa indonesia' jaitoe bahasa melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari 'Melajoe Riaoe', akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh indonesia;...". oleh karana itu, kongres pertama ini memutuskan bahwa buku buku tata bahasa yang sudah ada tidak memuaskan lagi, tidak seusai dengan perkembangan bahasa Indonesia sehingga perlu disusun tata bahasa baru yang sesuai dengan perkembangan bahasa.

Kongres Bahasa Indonesia II

Tanggal 28 Oktober hingga 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.

Tanggal 16 Agustus 1972 Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.

Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).

Kongres Bahasa Indonesia III

Tanggal 28 Oktober hingga 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantabkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.

 Kongres Bahasa Indonesia IV

Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.

Kongres Bahasa Indonesia V

Tanggal 28 Oktober hingga 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan mempersembahkan karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia VI

Tanggal 28 Oktober hingga 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Diikuti oleh peserta sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan penyusunan Undang-Undang Bahasa Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia VII

Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan pembentukan Badan Pertimbangan Bahasa.

Kongres Bahasa Indonesia VIII

Pada bulan Oktober tahun 2003, para pakar dan pemerhati Bahasa Indonesia akan menyelenggarakan Kongres Bahasa Indonesia ke- VIII. Berdasarkan Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada bulan Oktober tahun 1928 yang menyatakan bahwa para pemuda memiliki satu bahasa yakni Bahasa Indonesia, maka bulan Oktober setiap tahun dijadikan bulan bahasa. Pada setiap bulan bahasa berlangsung seminar Bahasa Indonesia di berbagai lembaga yang memperhatikan Bahasa Indonesia. Dan bulan bahasa tahun ini mencakup juga Kongres Bahasa Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia IX

Dalam rangka peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan 60 tahun berdirinya Pusat Bahasa, pada tahun 2008 dicanangkan sebagai Tahun Bahasa 2008. Oleh karena itu, sepanjang tahun 2008 telah diadakan kegiatan kebahasaan dan kesusasteraan. Sebagai puncak dari seluruh kegiatan kebahasaan dan kesusasteraan serta peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan Kongres IX Bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober-1 November 2008 di Jakarta.

Kongres tersebut akan membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media massa. Kongres bahasa ini berskala internasional dengan menghadirkan para pembicara dari dalam dan luar negeri. Para pakar bahasa dan sastra yang selama ini telah melakukan penelitian dan mengembangkan bahasa Indonesia di luar negeri sudah sepantasnya diberi kesempatan untuk memaparkan pandangannya dalam kongres tahun ini.

Kongres Bahasa Indonesia X

Kongres bahasa Indonesia yang kesepuluh dilaksanakan pada tanggal 28-31 Oktober 2013 di Jakarta. Hasil dari kongres bahasa Indonesia ke sepuluh merekomendasikan yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), merekomendasikan hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah.


B.  EJAAN YANG PERNAH BERLAKU DI INDOESIA

1. Ejaan van Ophuysen

Ejaan van Ophuhysen atau yang juga dikenal dengan ejaan Balai Pustaka dipergunakan sejak tahun 1901 hingga bulan Maret 1947. Disebut Ejaan van Ophuysen karena ejaan itu merupakan hasil karya dari Ch. A. van Ophuysen yang dibantu oleh Engku Nawawi dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Ejaan ini dimuat dalam Kitab Logat Melayu. Disebut dengan Ejaan Balai Pustakan karena pada waktu itu Balai Pustaka merupakan suatu lembaga yang terkait dan berperan aktif serta cukup berjasa dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia.

Ciri-ciri Ejaan van Ophusyen antara lain :

a.      Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa – Surabaya.

b.     Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, saja, wajang, dsb.

c.      Huruf oe untuk menuliskan kata-kata doeloe, akoe, Soekarni, repoeblik

d.     Tandadiakritis, seperti koma (‘)  ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, jum’at, ta’(dieja tak), pa’, (dieja pak), dsb.

e.      Huruf tj yang dieja c saat ejaan ini dihapuskan, seperti Tjikini, tjara, pertjaya, dsb.

f.      Huruh ch yang dieja kh, seperti chusus, achir, machloe’, ichlas, dsb.

 

2. Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) – 1947-1972

Ejaan ini disebut sebagai Ejaan Soewandi karena diresmikan tanggal 17 Maret 1947 oleh Menteri, Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan saat itu, yaitu Raden Soeawandi, menggantikan ejaan Ophuijsen. Sebenarnya nama resminya adalah ejaan Republik, namun lebih dikenal dengan ejaan Soewandi.

Ciri-ciri Ejaan Soewandi:

1.     Huruf oe diganti dengan u. Contohnya pada kata  duloe – dulu,  akoe – aku, Soekarni – Sukarni, Repoeblik – Republik.

2.     Bunyi hamzah dan bunyi sentak yang sebelumnya dinyatakan dengan () ditulis dengan ‘k’, seperti pada kata-kata ta’ – tak, pa’ – pak,  ma’lum – maklum,  ra’jat – rakjat.

3.     Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti ubur2, ber-main2, ke-barat2-an.

4.     Awalan ‘di-’ dan kata depan ‘di’ kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata depan ‘di’ pada contoh dirumah, disawah, tidak dibedakan dengan imbuhan ‘di-’ pada dibeli, dimakan.

 

3.  Ejaan Pembaharuan/ Ejaan Prijono-Kattopo (1956–1961)

Pada tahun 1954 diadakan kongres Bahasa Indonesia II di Medan, kongres membicarakan perubahan sistem ejaan. Oleh karena itu, Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan mengeluarkan surat keputusan pada 19 juli 1956 bernomor 44876/S tentang pembentukan panitia perumusan ejaan baru. Setelah bekerja satu tahun panitia berhasil menyusun patokan-patokan baru, patokan tersebut terumus dalam Ejaan Pembaharuan.

Ciri-ciri Ejaan Pembaharuan:

1.     Misalnya kata menyanyi: ‘menjanji menjadi meñañi; atau mengalah: mengalah menjadi meɳalah).

2.     Selain itu, isu tanda diakritis diputuskan agar kembali digunakan. Walhasil, k-e-ndaraan dengan é (seperti elo mengeja k-e-lainan) yang tadinya ditulis sama dengan k-e-mah, akhirnya ditulis berbeda. Untuk kata sjarat (syarat) dibedakan menjadi śarat.

3.     Sedangkan huruf j yang digunakan pada kata jang (yang) malah sudah disepakai ditulis menjadi yang (seperti kita pakai sekarang).

4.     Untuk kata-kata berdiftong ai, au, dan oi seperti sungai, kerbau, dan koboi akan dieja dengan sungay, kerbaw, dan koboy.

 

4.  Ejaan Melindo (1961–1967)

Sejak Kongres bahasa tahun 1954 di Medan dan dihadiri oleh delegasi Malaysia, maka mulailah ada keinginan di antara dua penutur Bahasa Melayu ini untuk menyatukan ejaan. Keinginan ini semakin kuat sejak Malaysia merdeka tahun 1957 dan kita pun menandatangani kesepakatan untuk membicarakan ejaan bersama tahun 1959-nya. Sayangnya, karena situasi politik kita yang sedang memanas (Indonesia sedang condong ke poros Moskow-Peking-Pyongyang, sedangkan Malaysia yang Inggris banget), akhirnya ditangguhkan dulu pembahasannya. Hal lain yang membuat ejaan ini kurang adalah perubahan huruf-huruf yang dianggap aneh. Misalnya, kata “menyapu” akan ditulis “meɳapu”; “syair” ditulis “Ŝyair”; “ngopi” menjadi “ɳopi”; atau “koboi” ditulis “koboy”.

Perubahan yang ada pada ejaan Melindo yaitu sejak tahun 1972 huruf 'dj' diganti menjadi 'j' seperti ; Djakarta – Jakarta,  'tj' diganti menjadi 'c' seperti; tjandi – candi,  huruf 'ng' diganti menjadi 'η' seperti kata; ngopi – ηopi.

 

5.  Ejaan Baru atau Ejaan LBK

Sebelum adanya EYD, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, (sekarang bernama Pusat Bahasa), pada tahun 1967 mengeluarkan Ejaan Baru (Ejaan LBK). Ejaan ini, sebenarnya estafet dari ikhtiar yang sudah dirintis oleh panitia Ejaan Melindo. Anggota pelaksananya pun terdiri dari panitia ejaan dari Malaysia. Pada intinya, hampir tidak ada perbedaan berarti di antara ejaan LBK dengan EYD, kecuali pada rincian kaidah-kaidah saja.

Perubahan yang terdapat dalam Ejaan LBK adalah digantinya huruf tj menjadi c, j menjadi y , nj menjadi ny, sj menjadi sy, dan ch menjadi kh. Huruf asing seperti z, y dan f disahkan menjadi ejaan bahasa Indonesia serta tidak adanya perbedaan penulisan antara huruf e pepet atau bukan.

 

6.  Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)

EYD adalah penyempurnaan dari ejaan -- ejaan sebelumnya yang merupakan hasil kerja dari panitia ejaan bahasa Indonesia yang dibentuk oleh LBK lembaga bahasa dan kesusastraan pada 1966. Ejaan ini diresmikan dalam pidato kenegaraan memperingati HUT kemerdekaan RI ke 27, pada 17 Agustus 1972. Selanjutnya dikukuhkan dalam surat keputusan presiden Nomor. 57 tahun 1972.

Beberapa penyempurnaan itu di antaranya adalah:

1.     Huruf J, Dj, Nj, Ch, Tj, Sj, pada ejaan Soewandi diubah menjadi Y, J, Ny, Kh, C, Sy.

2.     Kata ulang harus ditulis hanya dengan menggunakan kata sambung (-),  penggunaan angka 2 diperkenankan hanya pada penulisan cepat atau notula.

Van Ophuysen (1901)

Soewandi (1947)

Pembaruan (1957)

Melindo (1959)

Ejaan Baru (1966)

Ejaan Yang Disempurnakan (1972)

j

J

Y

y

y

y

dj

dj

J

j

j

j

nj

nj

Ñ

ɳ

ny

ny

sj

-

Ś

Ŝ

sy

sy

tj

tj

-

c

c

c

ch

-

-

-

kh

kh

ng

ng

ɳ

ɳ

ng

ng

Z

-

Z

Z

Z

Z

F

-

F

F

F

f

-

-

V

V

V

v

é

e

É

é

e

e

e

e

E

e

e

e

oe

u

U

u

u

u

ai

ai

ay

ay

ai

ai

au

au

aw

aw

au

au

oi

oi

oy

oy

oi

oi


Komentar